Minggu, 19 Desember 2010

serba - serbi waktu kosong 2

KISAHKU

Pusing mau tulis apa?!.
tapi ada satu kisah yang membuatku takut akan suatu hal.
.
Awalnya banyak orang yang membujuk ku untuk mengambil sebuah lilin tegap dan utuh.
mereka bilang, lilin tersebut bisa lebih membuatt hari-hari ku ceria.
bisa lebih menerangi setiap langkah yang ku ambil.
bisa lebih memberi kehangatan dikala ku kedinginan akan kurangnya kasih sayang.
.
setelah ku ambl lilin tersebut.
batangnya tak seindah saat pertama kali kulihat.
warnanya tak seputih saat mentari menyinarinya.
kuat apinya tak sehangat saat ia menyinari orang disekitarnya.
.
sekarang banyak orang yang meneriaki ku agar aku membuangnya,
atau meletakannya disebuah kotak kosong yang dipenuhi oleh bau ksepian.
.
tapi hati ku berkata.
kerusakan dan kekurangan yang ada pada lilin tersebut bukanlah alasan yang tepat untuk ku mencampakkannya.
karena lilin tersebut yang telah mengenalkan ku kembali pada sebuah kehangatan, walau hanya sesaat dan akhirnya padam karena tiupan angin kecil.
dengan kekuatanku, aku akan membuatnya kembali bersinar. Menerangi setiap langkah yang aku tempuh.
.
aku pun sadar, banyak hal yang bisa ku lakukan untuknya. Meskipun orang lain mencaci dan membuangnya.
  aku akan tetap menjaga dan melindungi dari setiap terpaan angin yang datang. Sampai ia mengecil, meredup dan mati..

serba - serbi waktu kosong

Awalnya aku berpikir untuk mengabadikan sebuah perasaan bahagia yang selalu tersimpan didalam hati pada selembar kertas putih.
Namun q urungkan niat tersebut,
karena percuma saja menuliskan sebuah perasaan berharga pada sebuah benda yang mudah untuk dihancurkan hanya dengan jentikan jari.

Lalu aku berpikir, untuk menuliskan sebaris kata cinta pada selembar daun agar batang pohonnya yang kokoh dapat membawanya menuju langit tinggi dan memberitahu semua orang bahwa aku mempunyai seseorang yang amat berharga untuk dicintai.
Namun kembali q urungkan niat itu.
karena percuma saja menulis diatas daun yang rapuh, karena pada akhirnya ia akan gugur lalu pergi diterpa angin dan tak kunjung kembali.

Aku kembali berpikir untuk menorehkan setetes tinta diatas lautan yang membentang luas mengitari bumi mengenai perasaan indah yang selama ini aku rasakan.
Namun, aku kembali berpikir.
percuma menorehkan setetes tinta diatas air yang pada akhirnya hanya bisa memecah belah setiap molekul yang terdapat didalam tinta menjadi jutaan benda asing tak kasat mata.

Kemudian aku terus berpikir dan bertanya.
bagaimana kalau aku menuliskan seberkas kisah menyentuh hati pada sebongkah batu apung yang kuat.
Ia tidak akan mudah hancur, tidak mudah diterpa angin, dan tidak mudah pula terbagi menjadi jutaan molekul saat aku membuangnya didasar lautan.
Tapi aku kembali berpikir.
Percuma saja aku berpikir untuk menuliskan sebuah kisah mengenai perasaan indah yang kurasakan pada sebuah benda nyata yang kasat mata.
Karena semua itu hanya akan menjadi pengingat kita mengenai bagaimana orang yang kita cintai meminta kita untuk menunggunya.
Sementara ia mengembara didunia ntah berantah dengan didampingi beribu selir cantik nan anggun.

Akhirnya aku memutuskan.
untuk menyimpannya didalam kotak penuh warna yang kusebut dengan hati.
karena semua kisah senang maupun duka.
dapat dihiasi oleh indahnya warna kemilau hati kita.
merubah semua tangis menjadi tawa
merubah pengalaman buruk menjadi sebuah pelajaran berharga untuk menopang kehidupan kita kelak.

tugas teknik editing - skenario

GENRE  : DRAMA
DURASI : 5 MENIT
PENULIS: MUTIARA RIZKI

CINTA DATANG DAN PERGI

#1. INT – RUMAH RIO – KAMAR – SIANG
Acil, Reza, Leo, Rio

Reza tengah asyik memetik senar gitar, Leo memainkan bola futsal, Rio dengan tenang membaca buku dan Acil bercermin sambil bergaya dan membenahi dandanannya.

ACIL
Gue yakin, kali ini gue pasti punya pacar !

REZA
Berapa persen? (santai)

ACIL
(Sungguh–sungguh)100%!

LEO
Emang loe udah punya kandidat baru?

ACIL
(tertawa sombong) Ya udahlah.

REZA
Yang lama?(heran)

Rio, Leo dan Reza menatap Acil yang juga menatap mereka secara bergantian.

CUT TO :                                   
FLASH BACK
#2. INT/EXT – RUMAH NOVI – TERAS – SIANG
Acil, Novi

Novi berdiri menatap Acil yang terus memainkan kakinya.

NOVI
Lalu, kamu mau apa kesini?

ACIL
(Malu – malu) Aku mau kasih ini!

Menunjukkan lollipop yang semula disembunyikannya sambil tersenyum menunduk.
NOVI
Dalam rangka?

ACIL
Memintamu jadi pacarku!

Novi mengambil lollipop yang digenggam Acil, Acil pun tersenyum bahagia. Namun senyumannya meredup ketika seorang pria menghentikan sepeda motornya didepan teras.

NOVI
Makasih ya Cil lollipopnya! Tapi aku sudah punya pacar. (menghampiri pacarnya) Aku pergi dulu ya! Daaahh..

Novi dan kekasihnya melaju dengan cepat dan meninggalkan Acil yang berdiri terpaku.

CUT TO :                              
END OF FLASH BACK
#3. INT – RUMAH RIO – KAMAR – SIANG
Acil, Reza, Leo, Rio

Reza, Leo dan Rio tertawa terbahak – bahak, namun Acil tak menggubrisnya. Ia tetap bercermin sambil bersenandung riang.
RIO
Terus, kandidat loe sekarang siapa?

ACIL
Pertanyaan bagus Yo! Kandidat gue sekarang…

RIO, REZA, LEO
(kaget)Apa? Kak Riri?

ACIL
(Tertawa kecil)Kalian jangan kaget gitulah!

LEO
Kok bisa?

ACIL
Hal apa pun bisa terjadi di dunia ini.

REZA
Tapi Kak Riri kan 5 tahun lebih tua dari loe.

ACIL
Baru 5 tahun, belom 500 tahun. Lagian, cinta ga mandang umur lay! Iya nggak Yo? Makanya, mulai saat ini gue bakal tinggal di rumah loe mumpung liburan sekolah.(memegang pundak Rio)dan gue harap loe mulai membiasakan diri manggil gue kakak ipar.

Rio memandang kaget kewajah Acil yang tersenyum pasti, tiba – tiba Riri datang membuka pintu kamar.

RIRI
De, tolong bantuin cuci motor yuk!

ACIL
(Sigap) Ayo Kak!

Acil berlalu meninggalkan Reza, Leo dan Rio yang memandangnya dengan tatapan heran.

CUT TO:
#4. INT – RUMAH RIO – TERAS – SIANG
Acil, Riri

Acil menggosok ban motor dengan tidak melepaskan pandangannya dari Riri yang memegang selang air. SUara telepon genggam Riri pun berkumandang dan dengan cepat ia mengangkatnya.
RIRI
Halo!

Karena asyik berbincang lewat telepon Riri tak menyadari selang airnya mengarah dan mneyiram tubuh Acil yang tidak menghindar menerima serangan air dadakan tersebut. Riri yang menyadari hal itu mengambil handuk dan menyelimuti Acil sambil meminta maaf.

ACIL (VO)
Baiknya cewek pujaan gue ini
(tersenyum)

RIRI
Audh, maaf Cil. Maaf ya !

ACIL
(menggenggam tangan Riri) Nggak papa kok Kak, meskipun aku tersiram bensin dan hangus terbakar akibat percikan api cinta ini sekalipun, aku rela!

RIRI
Kamu kenapa Cil? Cil, Acil, Acil !

CUT TO :
#5. INT – RUMAH RIO – KAMAR RIO – MALAM
Acil, Rio, Reza, Leo

Acil membuka matanya perlahan, melihat kesekeliling. Rio tetap asyik dengan bukunya, Reza dengan gitarnya dan Leo dengan bola futsalnya.

ACIL
Lay, tadi gue mimpi indah banget. Dalam mimpi gue, gue lagi main air sama Kak Riri. Sinetron banget dah !
(tersenyum sambil memeluk guling)

LEO
Mimpi apaan? Loe tadi pingsan gara – gara kedinginan kesiram air buat cuci motor, dodol!

ACIL
Pingsan?

REZA
Iya, emang Loe nggak inget sama sekali?
Acil menggeleng.

RIO
(menutup bukunya dan mendekati Acil yang masih terduduk di kasur) Loe kepincut apanya sich sama kakak gue?

ACIL
Emang loe nggak sadar? Kakak Loe itu sempurna banget Yo! Udah cantik, baik, pintar, dewasa, pokoknya gue naksir berat sama dia.

RIO
Ya, ya, ya ! terserah loe mau bilang apa, yang jelas loe nggak akan bisa dapetin kakak gue. Soalnya…

ACIL
(memotong)Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini Yo, apalagi kalau inget perhatian kak Riri ke gue.

CUT TO:                                     FLASH BACK
#6. INT – RUMAH RIO – RUANG TV – SIANG
Acil, Rio, Reza, Leo

Mereka berempat tengah menonton DVD dengan banyak tumpukan piring kotor dan bungkus cemilan yang telah kosong.

REZA
Giliran loe Cil cuci piring!

LEO
Iya, sono cuci!

ACIL
Bukannya giliran loe Yo?

RIO
Enak aja loe, gue yang punya rumah ngapain gue cuci piring? Sorry ya, gue paling pantang dibabuin dirumah sendiri (tertawa mengejek)

LEO
Udah sono cuci!

ACIL
Filmnya aj belum kelar

REZA
Cuci sekarang lay! Nggak enak nonton banyak sampah begini.

RIO
Hush – hush !

ACIL
Aaarrghh, rese loe pada!

Acil membenahi piring dan sampah yang berserakan lalu pergi menuju dapur.

CUT TO :
#7. INT – RUMAH RIO – DAPUR – SIANG
Acil, Riri

Acil mencuci piring sambil ngedumel, Riri dating menuruni anak tangga.

RIRI
Kok sendiri Cil? Yang lainnya nggak ikut cuci piring?
(menuju kulkas dan mengambil minum)

ACIL
Nggak Kak, emang rese semuanya! (kesal)

Piring yang ada digenggaman Acil jatuh dan melukainya jarinya hingga berdarah.

RIRI
Kamu kenapa Cil?
(Kaget)
Yah, piring pecah !
(Panik)
Jari kamu berdarah Cil!

ACIL
(Panik dan setengah berteriak) Wuah Gimana nih? Jari tangan kebanggaan gue!

RIRI
(Mengambil lap dan membalut luka Acil)
Acil yang digenggam erat oleh Riri memandang Riri tanpa sedikit pun teringat pada jarinya yang terluka.

Acil pun jatuh pingsan.

CUT TO:                                END OF FLASH BACK
#8. INT – RUMAH RIO – KAMAR – MALAM
Acil, Rio, reza, Leo

Acil masih mneerawang jauh sambil tersenyum senang.

LEO
Busyet dah ni bocah, Cuma gara – gara itu doing loe tergila – gila sama kak Riri?

ACIL
Doang? Loe bilang doang? Ini bukan sekedar kejadian apa yang gue alami sama dia lay. Tapi perhatiannya itu yang bikin jantung gue kempat – kempot.

Reza, Rio dan Leo tetawa geli.

ACIL
Sekarang kakak loe mana?

RIO
Pergi sama…

INSERT : Suara pintu terbuka.

ACIL
Itu kakak loe pulang. Gue kebawah dulu ya!(berhenti diambang pintu). Inget! Selama gue disini, gue yang bertugas menjaga Kak Riri. Jadi gue harap loe nggak macem – macem!
(berlari meninggalkan kamar)

RIO
Mulai gila ni anak, gue adenya woy! Yang ada loe jangan macem – macem, gue khawatir loe deket – deket sama dia. Hey Cil, Acil!

Rio kembali menghembuskan napas panjang.

CUT TO :
#9. INT/EXT – RUMAH RIO – RUANG TV – MALAM
Acil, Riri

Acil menuruni anak tangga dengan tergesa – gesa dan melompat dihadapan Riri yang otomatis terlonjak kaget bertepatan dengan suara petir menggelegar dan menghempaskan bungkusan yang digenggamnya.

ACIL
Maaf kak, aku nggak bermaksud bikin kakak jantungan!

RIRI
Nggak papa kok Cil, aku Cuma kaget gara – gara suara petir tadi. (cemas)

Riri berbalik mengambil payung yang ada didalam tasnya dan mengambil sepeda untuk mengendarainya.

CUT TO:
#10. EXT – RUMAH RIO – TERAS – MALAM
Acil, Riri, Rio, Leo, Reza

Riri bersiap melaju namun Acil menghentikannya.

ACIL
Kak Riri mau kemana? Sebentar lagi ujan.

RIRI
Aku mau antar payung ini Cil!

ACIL
Emang nggak bisa besok?

RIRI
Ujannya kan sekarang Cil, gimana sih kamu?

ACIL
Wuah, kakak bener – bener perhatian. Yaudah kak, biar aku yang boncengin kakak, tenaga cowok kan lebih gede.

Acil mengambil alih kemudi, Riri pun naik dibelakangnya. Rio, Reza dan Leo dating dengan tergesa – gesa namun Acil tetap melajukan sepedanya.

RIO
Haduh, bener – bener nih bocah. Bikin khawatir aja.

REZA
Emang kenapa Yo?

RIO
Gue takut dia sakit hati ikut naik sepeda sama kakak gue

LEO
Sakit hati kenapa?

RIO
Ntar deh gue jelasin, mending sekarang kita kejar mereka. Sebelum semua terlambat.

Mereka bertiga pun bergegas mengejar Acil dan Riri dengan menggunakan motor.

CUT TO:
#11. EXT – JALANAN – MALAM
Acil, Riri

Acil mengayuh sepedanya sambil tersenyum senang dan sesekali menengok pada Riri.

CUT TO: INSERT
#12. EXT – JALANAN – SIANG
Acil, Riri

Acil mengayuh sepedanya dengan santai, menikmati hembusan angin sambil tertawa riang bersama Riri.

CUT TO :
#13. EXT – JALANAN – MALAM
Acil, Riri, Rio, Leo, Reza, Bagas

Riri melihat punggung seseorang tengah berlari menjauh. Ia pun memanggilnya.
RIRI
Bagas!

Orang yang dipanggil menoleh dan menghentikan langkahnya.

RIRI
Berhenti Cil!(turun dari sepeda)

BAGAS
Sayang, kok kamu…

RIRI
Udah jangan nanya terus, aku Cuma mau kasih paying ini. Sebentar lagi mau hujan, aku takut kamu sakit (tersenyum)

Mendengar percakapan mereka Acil diam terpaku.

BAGAS
Makasih ya sayang! Maaf udah bikin kamu khawatir. Kalau gitu, kamu aku anter pulang lagi(tersenyum)

RIRI
Nggak papa?

BAGAS
Nggak papa dong, daripada nanti kamu yang keujanan

Riri dan Bagas pun tersenyum manis, Riri merangkul lengan Bagas dan berjalan meninggalkan Acil.

RIRI
Acil, makasih ya! Udah mau bantu kakak. Ayo pulang!

Acil tetap menatap sedih punggung Riri dan Bagas yang mulai menjauh, hujan pun perlahan mulai turun. Rio, Reza dan Leo datang boncengan bertiga dengan mengendarai motor, menghampiri Acil yang terdiam.

RIO
Telat dah, loe nggak papa Cil?

Acil tetap terdiam.

RIO
Kan udah gue bilang Cil, loe nggak mungkin bisa dapetin kakak gue. Dia itu udah punya tunangan!

REZA
Sabar Cil, mungkin Kak Riri bukan yang terbaik buat loe.

LEO
Iya Cil, kali aja bentar lagi nich, disini ada cewek jatoh kiriman Tuhan buat nemenin hari – hari loe.

RIO
Betul Cil, loe jangan patah semangat buat terus ngejar cinta loe.

Tiba – tiba dari belakang arah mereka terdengar seseorang jatuh dan meringis kesakitan. Seorang gadis manis, memegangi kakinya sambil terduduk dijalan. Acil menjatuhkan sepedanya dan menghampiri gadis tersebut.

ACIL
Loe nggak Papa?

Betapa terpesonanya Acil ketika gadis manis tersebut mendongakkan wajahnya dan menatap Acil, Acil tersenyum dan dengan sigap membantu gadis tersebut berdiri.

ACIL
Ayo gue anter pulang !

Acil dengan wajah senang memapah gadis tersebut dan memboncengnya dengan sepeda.

RIO
Yeah, percuma gue khawatir sama tuh anak.

LEO
Dasar bocah!

REZA
Gampang terluka, gampang juga buat suka.

Rio, Leo dan Reza tertawa lega melihat Acil yang terus mengayuh sepedanya dibawah guyuran hujan.

THE END